METRO – Suasana ruang pertemuan SD Negeri 11 Metro Pusat pagi itu, Senin (8/12/2025), riuh rendah dengan tawa dan canda. Bukan siswa, melainkan para orang tua dan wali murid yang tengah asyik mengikuti permainan “Simpul Komunikasi”. Mereka berdiri dalam lingkaran, saling berpegangan tangan yang telah membentuk jaringan simpul rumit, dan harus bekerja sama melepaskan diri tanpa melepaskan pegangan. Inilah pembuka yang menyegarkan dari program “Pekerja Sosial (Peksos) Go To School” edisi parenting yang digelar Dinas Sosial (Dinsos) Kota Metro selama tiga hari, 8-10 Desember 2025.

Kegiatan yang menyasar orang tua/wali murid kelas 1-6 ini sengaja dikemas dengan pendekatan partisipatif. Sebelum materi tentang Neuro Parenting disampaikan, para fasilitator dari Dinsos Kota Metro memastikan para peserta mencair dan siap menerima ilmu. “Game-game ini bukan sekadar pengisi waktu. Setiap permainan dirancang sebagai metafora untuk membuka pemahaman tentang komunikasi keluarga, kerja sama, dan empati,” ujar Friska Winati Sianturi, S.Sos., salah satu Pekerja Sosial, sambil memandu permainan.

Hari pertama pun dimulai dengan energi berbeda. Setelah “Simpul Komunikasi”, orang tua diajak bermain “Terowongan Umpan Balik”. Dalam permainan ini, para peserta bergantian memberi pujian dan apresiasi spesifik kepada orang lain di dalam lingkaran. Suasana pun berubah haru. Banyak wajah yang semula canggung, akhirnya tersenyum lepas. “Kami ingin membiasakan orang tua untuk memberikan positive reinforcement atau penguatan positif, yang kelak bisa diterapkan pada anak-anak mereka. Otak kita, dan otak anak, lebih responsif terhadap pujian yang tulus daripada kritikan yang keras,” jelas Sampiriono, S.ST. pembicara utama dari Dinsos Kota Metro.

Di hari kedua, Selasa (9/12), game yang diusung lebih menyentuh aspek emosional. Sebelum masuk ke sesi self-therapy, para orang tua diajak bermain “Peta Emosi Keluarga” menggunakan kertas dan alat gambar. Mereka diminta menggambarkan perjalanan emosi mereka selama satu pekan terakhir di rumah. Game ini berhasil membuka ruang refleksi yang jujur. Dipandu oleh Ponijan, banyak orang tua yang kemudian menyadari pola emosi mereka yang seringkali tidak stabil dan bagaimana hal itu memengaruhi suasana rumah. “Dari gambar-gambar sederhana ini, kita bisa melihat bagaimana stres pekerjaan terbawa ke rumah, dan tanpa sadar ‘ditumpahkan’ kepada anak. Ini adalah wake-up call yang powerful,” tutur Meyta.

Hari ketiga, Rabu (10/12), menjadi puncak dari proses yang dibangun. Sebelum sesi penguatan motivasi, game “Menara Impian Keluarga” dimainkan. Para orang tua dibagi dalam kelompok kecil dan diberi bahan sederhana seperti sedotan dan tali untuk membangun menara yang merepresentasikan harapan mereka bagi keluarga. Game ini melatih kesabaran, strategi, dan kolaborasi antar orang tua. “Lihat, untuk membangun keluarga yang kuat butuh fondasi yang kokoh (komunikasi), koneksi yang erat (quality time), dan visi yang sama di puncaknya (nilai-nilai). Proses membangun menara ini adalah cerminannya,” kata Sampiriono, S.ST. sambil berkeliling mengamati dinamika kelompok.

Penambahan sesi game ini terbukti efektif. Para orang tua tidak hanya datang sebagai pendengar pasif, tetapi menjadi peserta aktif yang terlibat secara fisik dan emosional. “Awalnya saya pikir akan seperti seminar biasa yang membosankan. Ternyata kami diajak bermain, tertawa, bahkan sedikit menangis. Dari game-game itu, saya justru paling tersadar. Saya belajar lebih banyak tentang diri saya dan hubungan saya dengan anak dari permainan ‘Peta Emosi’ daripada nasihat langsung,” aku Ibu Siti, wali murid kelas 5.

Kepala Sekolah SDN 11 Metro Pusat, Yuliana, S.Pd., M.Pd., mengamati perubahan semangat peserta dari hari ke hari. “Pendekatan experiential learning melalui game yang dilakukan Dinsos ini sangat brilliant. Orang tua masuk dalam proses belajar yang menyenangkan, sehingga materi Neuro Parenting yang ilmiah pun menjadi mudah dicerna dan terasa relevan.”

Program Peksos Go To School dengan format fun and reflective parenting ini menegaskan bahwa penguatan keluarga bisa dimulai dengan cara-cara yang kreatif dan manusiawi. Melalui gelak tawa dalam game, refleksi mendalam, dan materi yang aplikatif, Dinsos Kota Metro, melalui para peksos profesionalnya, telah membuka sebuah pintu baru bagi para orang tua: bahwa mengasuh anak dengan bahagia dan sehat dimulai dari orang tua yang juga memahami dan mengelola diri sendiri dengan baik. Rangkaian kegiatan ini diharapkan menjadi model yang akan direplikasi di sekolah-sekolah lain, memperkuat jejaring antara sekolah, orang tua, dan pembangunan sosial Kota Metro.