METRO-Suasana haru menyelimuti aula pertemuan di Jalan A. Yani Metro, Kamis pagi, 8 Mei 2025. Kursi-kursi plastik disusun rapi; di sisi kiri panggung bantuan untuk anak penyandang disabilitas, dan kardus-kardus bertuliskan Pemenuhan Hidup Layak serta “Perlengkapan Sekolah”. Itulah wujud nyata program Asistensi Rehabilitasi Sosial (ATENSI) Kementerian Sosial Republik Indonesia melalui Sentra Handayani—bantuan yang hari ini resmi disalurkan kepada 49 anak dari tiga kategori rentan: penyandang disabilitas, yatim‑piatu, dan anak dari keluarga tidak mampu.


Acara dimulai pukul 09.00 WIB. Kepala Dinas Sosial Kota Metro, Sri Amanto, S.H., M.H., memimpin sambutan. Ia menegaskan bahwa kolaborasi pemerintah pusat dan daerah akan terus diperkuat agar anak‑anak dengan hambatan sosial tidak “luput dari pelukan negara”. Setelahnya, Kepala Pokja Anak Sentra Handayani, Novadiyanti, menyerahkan bantuan secara simbolis kepada perwakilan penerima.

Acara didesain sederhana namun hangat. Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) dan Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) bertindak sebagai pendamping yang membantu mencatat ukuran alat bantu dengar dan menyesuaikan gelang gruwi—alat terapi sensorik untuk anak tuna netra.

Berdasarkan keterangan Sentra Handayani, setiap paket dirancang mengikuti assessment multi‑dimensi: kebutuhan medis, nutrisi, pendidikan, dan psikososial. Prinsip ATENSI memang menekankan pendekatan berbasis keluarga, komunitas, dan residensial untuk mengembalikan fungsi sosial penerima manfaat.


Sebagai Unit Pelaksana Teknis Kemensos, Sentra Handayani berkedudukan di Jakarta namun memiliki mandat lintas‑provinsi. Melalui ATENSI, lembaga ini menyalurkan layanan reguler hingga layanan khusus berbasis problem individu. Program ATENSI sendiri diluncurkan Kemensos pada 2016 untuk memadukan rehabilitasi sosial, pemberdayaan ekonomi, dan perlindungan hukum dalam satu siklus intervensi.

Sri Amanto dalam keterangannya menyebut, “Skema ATENSI memampukan daerah menjangkau kelompok rentan tanpa birokrasi rumit. Kami hanya perlu memperkuat basis data dan pendampingan, sementara pengadaan bantuan ditangani Kemensos.”


Proses seleksi 49 anak penerima telah berlangsung sejak Februari 2025, melibatkan PSM, TKSK, dan pekerja sosial. Penilaian mencakup: Verifikasi DTKS dan surat keterangan tidak mampu, Observasi lapangan untuk mengukur hambatan mobilitas dan akses pendidikan dan Wawancara keluarga, mengidentifikasi dukungan emosional serta kesiapan merawat anak dengan disabilitas.

Di tengah tantangan fiskal dan kompleksitas birokrasi, penyaluran atensi menjadi bukti bahwa sinergi antarlembaga dan kepedulian warga dapat mewujudkan inklusi sosial. Dengan momentum positif ini, diharapkan program ATENSI terus bereskalasi, menjangkau lebih banyak anak di seluruh Kota Metro.