SLUM AREA merupakan daerah yang sifatnya kumuh tidak beraturan yang terdapat di kota atau perkotaan. Menurut Rindrojono, (2013) Kumuh adalah gambaran secara umum tentang sikap dan tingkah laku yang rendah dilihat dari standar hidup dan penghasilan rendah. Dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa Slum area adalah wilayah permukiman yang berkepadatan tinggi, miskin, dan kurang terpenuhinya akses pada infrastruktur. Adapun beberapa masalah yang sering ditemui dalam Slum area ini seperti kekumuhan, sarana dan prasarana yang terbatas, dan kriminalitas yang tinggi sehingga mempengaruhi perkembangan daerah sekitar.

Rindrojono (2013) mengatakan bahwa salah satu faktor terbentuknya slum area di suatu daerah perkotaan adalah faktor sosial dan ekonomi. Pada umumnya sebagaian besar penghuni lingkungan permukiman kumuh mempunyai tingkat pendapatan yang rendah karena terbatasnya akses terhadap lapangan kerja yang ada. Tingkat pendapatan yang rendah ini yang menyebabkan tingkat daya beli yang rendah pula atau terbatasnya kemampuan untuk mengakses pelayanan sarana dan prasarana dasar. Untuk itu diperlukan adanya intervensi dari pemerintah, khususnya pemerintah daerah untuk dapat membenahi slum area di suatu daerah. Seperti yang dilakukan oleh Pemerintah daerah Kota Metro melalui Dinas Sosial.

Dinas sosial Kota Metro melaksanakan program pemberdayaan dan pengembangan keluarga fakir miskin di daerah slum area. Tujuan dari program ini antara lain:
• Meningkatkan mutu dan jumlah SDM dan usaha kearah kemandirian penduduk miskin di daerah slum area.
• Tertatanya lingkungan sosial yang mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat miskin di daerah slum area.
• Terfasilitasinya penduduk miskin untuk memperoleh hak dasar dan pelayanan sosial dasar di di daerah slum area.
Program ini dilaksanakan di 5 kelurahan dari masing-masing kecamatan di Kota Metro, yaitu; hadimulyo barat (metro pusat), iringmulyo (metro timur), rejomulyo (metro selatan), ganjarasri (metro barat) dan karangrejo (metro utara). Kelima daerah tersebut merupakan daerah slum area di masing-masing kecamatan di Kota Metro. Peserta dari program ini adalah 10 orang kelompok masyarakat miskin dari masing-masing kelurahan.

Dalam program pemberdayaan dan pengembangan keluarga fakir miskin di daerah slum area, para kelompok peserta akan mendapatkan bantuan berupa modal usaha. Usaha yang akan dijalankan para peserta adalah usaha yang sesuai dengan minat dan keahlian dari para peserta. Untuk itu, sebelum modal usaha diberikan, dinas sosial kota metro telah melakukan kegiatan assment kebutuhan partisipatif dan penyusunan rencana tindak partisipatif di 5 kelurahan daerah slum area kota metro yang dilaksanakan pada 7 s.d 12 3 Agustus. Kegiatan yang bersifat partisipatif bertujuan untuk menggali permasalahan sampai minat dari para perserta penerima bantuan.

Dengan kegiatan tersebut didapatkan usaha yang sesuai dengan minat dan keahlian dari para perserta yaitu; usaha pembuatan jamu tradisional oleh kelompok peserta di kelurahan Hadimulyo Barat, usaha jual beli gas oleh kelompok peserta dikelurahan iringmulyo dan rejomulyo, usaha pembuatan aneka kue oleh kelompok peserta di kelurahan ganjarasri dan usaha menanam sayuran oleh kelompok peserta di kelurahan karangrejo.

Dari permasalahan yang digali para peserta dan bantuan yang sesuai dengan minat dan keahlian dari para peserta diharapakan program ini akan dapat berjalan secara berkelanjutan merupakan tujuan dari metode partisipatif yang dilakukan dinas sosial Kota Metro dalam membenahi pemasalahan sosial ekonomi pada slum area di Kota Metro. Program pemberdayaan dan pengembangan keluarga fakir miskin ini merupakan program perdana dari penanganan slum area di Kota Metro, karena konsep dari program ini secara keseluruhan adalah akan ‘mengguyur’ kelima daerah slum area dengan berbagai bantuan sehingga dapat menghapuskan slum area di Kota Metro.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *